“PEMUDA BANGSA YANG BERJUANG DENGAN BIOLANYA”

Pernah mendengar lagu Indonesia Raya dalam 3 stanza? Saya yakin, banyak diantara kita yang belum mendengarkannya. Dan film ini adalah sebaik-baik film untuk mengenalkan lagu kebangsaan kita dengan 2 stanza lainnya yang sajaknya begitu indah. Tidak hanya mengenalkan lagu Indonesia Raya 3 stanza, tapi juga mengenalkan siapa penciptanya dan bagaimana perjuangannya. Apakah selama ini kita ‘cukup tahu’ siapa WR Soepratman atau tidak, akan terjawab setelah kita menyaksikan film biopik ini yang dikemas berkelas oleh sutradara John de Rantau.

Berlatar kisah Wage Rudolf Soepratman, film ini menceritakan secara runut dengan alur yang sangat jelas. Tentang Wage kecil, keluarganya, orangtuanya. Pada awal film diputar, penulis skenario menyentakkan penonton dengan memberikan alur mundur, yang mana menceritakan puncak konflik di awal film. Yaitu ketika pemerintah Belanda melarang Wage memainkan lagu ciptaannya, lagu yang pertama kali akan dimainkan saat Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Film yang berdurasi dua jam ini, cukup membuat saya takjub karena berhasil memeluk kisah salah seorang pahlawan bangsa yang berjuang lewat karyanya. Pesan terkuat yang saya dapat dari film ini adalah bahwa karya yang dilahirkan dari otak dan hati yang lurus, akan menjadi satu pusaka yang tak ternilai harganya. Pada zaman dimana kita sudah merasakan merdeka dari penjajahan (secara fisik) ini, kita perlu merenungkan apakah memang sekarang kita sudah merdeka secara otak dan hati? Wage yang diperankan Rendra Bagus Pamungkas dalam film ini, menyampaikan pada kita kurang lebih seperti ini, “Kau bisa penjarakan tubuhku, tapi jiwaku akan selalu bebas merdeka.”

Film Wage adalah salah satu film Biopik terbaik yang pernah saya tonton, sepuluh jari untuk penata artistik yang begitu ditail memperhatikan setiap sudut tempat di sekitar tahun 1908-1938. Dan untuk menata sentuhan masa lalu, tentulah tidak mudah. Namun, film ini berhasil mengajak saya berpetualang ke masa itu, masa dimana para pemuda bangsa ini bergeriliya berjuang untuk merdeka. Beberapa film Biopik yang pernah saya tonton, memiliki cerita tentang perjuangan yang unik, termasuk film tentang WR Soepratman. Sepanjang menonton saya dihanyutkan dengan alunan musik yang indah. Film ini beruntung, memiliki pengisi instrumen yang keren dan membuat skoring musik film ini sempurna, versi saya. Dan memang harusnya begitu, karena ini film tentang seorang pejuang pencipta lagu kebangsaan. Dari awal sampai akhir, emosi saya diaduk-aduk oleh suasana latar musik yang sangat mendukung disetiap adegannya. Selain juga memang Rendra memainkan tokoh Wage dengan sempurna. Watak tokoh yang ia perankan seakan benar-benar lekat dan membuat penonton merasa dekat dengan alm. WR Soepratman.

Film Biopik yang baik adalah film yang dapat memanipulasi tokoh dengan sempurna, sehingga penonton dapat bernostalgia dengan tokoh tersebut. Dan saya merasakan hal tersebut dalam film ini. Saya acungkan jempol untuk koordinator talent yang menemukan pemain-pemain yang sangat berkarakter dan memiliki kualitas bermain peran diatas rata-rata. Penulis skenario film ini juga layak di apresiasi, karena dapat menyajikan dialog-dialog yang meaningful dan sangat berkesan. Banyak kesan dan hal baik yang saya tangkap saat menonton film ini. Seperti ketika Mas Sosro menjelaskan pada Wage tentang filosofi huruf alif yang lurus seperti stik biola yang digunakan untuk menggesek senar sehingga lahir alunan nada yang indah. Film ini bukan genre film islami, tapi rasa yang diangkat sangatlah islami dan tidak menggurui. Menyadarkan kita bahwa apapun yang terjadi di dunia ini semua berkah dari rahmat Allah. Hal tersebut ditunjukkan ketika Wage mengalami kehabisan inspirasi saat menulis lagu kebangsaan Indonesia Raya. Wage yang dulunya borjuis, suka mabuk-mabukkan dan merokok akhirnya sadar, bahwa dengan beriman pada Allah-lah ia bisa membantu negara ini merdeka lewat sebuah lagu. Ada satu scene ketika Wage membaca alquran dan shalat, dan itu yang akhirnya membuat dia mampu berdiri tegak dihadapan banyak pemuda untuk memainkan musik lagu kebangsaan secara instrumental di hari kongres pemuda yang kita kenal dengan hari sumpah pemuda.

Film ini juga berbicara tentang kekuatan sebuah karya. Disini tak hanya bercerita tentang musik dan lagu yang dibuat dengan mencurahkan pikiran, kemampuan, dan perasaan. Tapi juga tentang karya lain, yangmana diceritakan Wage juga sempat menulis 3 buah judul roman, namun baru satu yang berhasil ia cetak, itupun berhasil di-sweeping oleh pemerintah Belanda dan dimusnahkan. Bersyukur Lagu Indonesia Raya sampai hari ini masih dapat kita nyanyikan dan dengarkan. Dan begitulah dasyhatnya peran suatu karya, yang jika benar-benar kita buat dengan hati dan tujuan yang mulia. Maka kita telah me-wakaf-kan karya itu untuk bekal kita mendekat kepadaNya. Seperti apa yang dilakukan WR Soepratman, yang mungkin ia pun tak akan menyangka bahwa lagu ciptaannya telah berkumandang disepanjang bumi yang dipijak anak bangsa sampai detik ini.

Kisah beliau yang digambarkan secara apik oleh John de Rantau dan tim-nya, selayaknya menyadarkan kita, pentingnya untuk mulai menciptakan karya dalam bentuk apapun, sesuai dengan yang bisa kita lakukan. Mungkin di masa Indonesia sedang digoncang banyak masalah, film ini bisa memberikan refleksi untuk kita. Untuk kita mulai bertanya pada diri sendiri di depan cermin, “Apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa dan negara ini?”

Saya berharap, film ini dapat ditonton oleh seluruh generasi milenial dan bahkan gen Z yang butuh tahu bahwa ada kekuatan yang besar dari sebuah karya. Bagaimana sebuah lagu dapat mengubah dunia, bagaimana “Indonesia Raya” mampu memanaskan darah juang para pemuda untuk merebut kemerdekaan Indonesia!

Selamat menonton dan melihat betapa indahnya nada-nada yang diciptakan WR Soepratman, dan luarbiasanya perjuangan beliau untuk bangsa ini!
Hiduplah Indonesia Raya…

Salam,

Isti Anindya

Pin It on Pinterest