Duka Sedalam Cinta (2017)

by | Oct 18, 2017 | Daftar Film | 19 comments

[Total: 105    Average: 3/5]

TRAILER:

OST:

Detail Film

Genre                            : Drama Keluarga, Religi
Sutradara                      : Firmansyah
Produser                       : Helvy Tiana Rosa
Musik                             : Dwiki Dharmawan
DOP                               : Monodzky
Skenario                        : Fredy Aryanto
Tanggal Rilis                  : 19 Oktober 2017
Durasi                            : 87 menit
Produksi                        : KMGP Pictures

 

Sinopsis

Gagah (Hamas Syahid) pemuda tampan, cerdas dan idola para gadis, mengalami kecelakaan di suatu daerah di Maluku Utara. Ia ditolong oleh  Kyai Ghufron (Salim A. Fillah) dan tinggal di pesantren milik kyai tersebut. Selama berada di sana Gagah belajar banyak tentang Islam.

Sekembalinya dari Maluku Utara, perubahan Gagah membuat Mama (Wulan Guritno) heran, sedang adiknya yang tomboy, Gita (Aquino Umar), salah paham. Gita marah dan tidak bisa menerima perubahan Gagah.  Suatu ketika Gita bertemu Yudi (Masaji Wijayanto), pemuda tampan misterius yang membuatnya simpati.  Gita juga berkenalan dengan Nadia (Izzah Ajrina) yang baru kembali dari Amerika, dan Ibu Nadia (Asma Nadia).

Gagah berusaha untuk terus  berbaikan dengan Gita. Gagah yang menjadi relawan Rumah Cinta untuk pendidikan anak dhuafa di pinggiran Jakarta, bersama 3 preman insyaf (Epi Kusnandar, Abdur, M. Bagya) menyiapkan sebuah rencana yang bisa mengubah segalanya. Namun sesuatu terjadi, membuat Gagah, Gita, Yudi dan Nadia bertemu dalam jalinan takdir yang membawa mereka pada duka sedalam cinta, dan sebuah pertemuan tak terduga di Halmahera Selatan.

 

*Keterangan: Duka Sedalam Cinta merupakan sekuel dari film Ketika Mas Gagah Pergi, namun bisa ditonton secara terpisah (tanpa harus menonton yang pertama). Film ini dijadwalkan tayang mulai 19 Oktober 2017.

Pemain

Hamas Syahid Izzudin

Masaji Wijayanto

Aquino Umar

Izzah Ajrina

Asma Nadia

Wulan Guritno

Mathias Muchus

Ust. Salim A. Fillah

Tanggapan dan Komentar Kamu

[Total: 105    Average: 3/5]

19 Comments

  1. Dina Marlina R

    Fix filmnya keren kece bede, yg belum nonton bawa tissue sebanyak2nya

    Reply
  2. taufik

    Mantaps…

    Reply
  3. Dw Nur Aisyah

    Apa peranmu untuk dakwah islam ini? Ah mas gagah :”

    Reply
  4. Qori

    Filmnya sangat bermanfaat,saya suka sama filmnya.. Ajaran islam nempel bngeett.. Semoga film2 indonesia seperti ini.. Semngat KOPFI

    Reply
  5. Reno Anugerah Pratama

    Film yang akan membawa anda memasuki zona hijrah. Tonton dan berubahlah dengan aksi positif setelahnya. #SalamHijrah

    Reply
  6. DukunFilm

    ADA YANG MAU JUJUR HABIS NONTON FILM MALAH BINGUNG ?

    Langsung ajalah, saya sendiri gak mau berbasa basi, persoalan ini orang2 baru, belum pengalaman dll. Tapi ya jangan segitunya dong.
    Dan saya sendiri tidak mau bicara terlalu detile soal akting, gesture dan banyak hal lain yg menggelikan. Karena saya tidak mau mengingat2 peristiwa berdurasi 87 menit itu semalam.

    Film Cinta Cita Rasa Horor

    Kurang horor apa coba ?, scene pantai yg indah tiba2 jumping ke scene mas gagah yg nangis. Film horor pun pasti punya aba2, ancang-ancang jeda yang siap membuat penontonnya terkejut. Lah ini tiba-tiba ada yg nangis, kurang horor apa ?, aku sendiri hampir jungkir balik saking terkejutnya.

    Film nya  "Golden Ways" banget

    Dibeberapa scene film ini saya serasa ikut seminar motivasi, ceramah atau mungkin seminar pra nikah. Kalo aku setya novanto, aku akan meminta petugas skip bagian ceramah ini. Toh aku mau nonton film bukan ceramah.

    emang beda film yang low budget dengan film yang gak ada budget.

    Film yg low budget akan membuat film yg sebagus mungkin sesuai dgn budget yg ada. Paling tidak alur cerita menjadi hal yg penting. Misalnya film "Turah" : shootingnya ndak jauh jauh disitu situ aja kampung kecil, tapi coba kita lihat pesan, alur cerita serta ending yang begitu rapi dan menakjubkan.

    Film cita rasa "Police Time" ?

    Yg pernah nonton police time mestinya tahu, film dengan alur maju-mundur-cantik via lorong waktu berhasil membuat kita berfikir sepanjang film, dan berkesimpulan penuh kejutan di akhir film.
    Mungkin saja DSC ingin membuat film dgn alur mundur penuh teka teki seperti itu..dengan lorong waktu dan alur maju-mundur-keprosok-busuk. sehingga beberapa org yg ku tanya setelah nonton berkata : film yang membingungkan.

    Ini bukan soal waktu dan duit yg terbuang, toh sebagian duitnya untuk misi kemanusiaan.

    Tapi ya jangan segitunya dong, mengorbankan pikiran2 yg tak berdosa. Mengorbankan pikiran2 anak2 kecil yg khawatirnya mereka pikir kalo standar film bagus itu ALUR harus maju-mundur-keprosok.

    Ada banyak film islami yang sukses dalam banyak hal.

    Tapi sayangnya
    Yang paling menyedihkan dri semua ini, kalo ternyata kita tidak pernah  belajar dan susah menerima masukan, boro-boro kritik.

    Btw. Thanks buat KOPFI sudah memasukan film ini sebagai film rekomendasi. Setidak mungkin kopfi tidak "bohong"  kalo ini film baik. setidaknya film yg punya niat baik.  Karena "DUKUNG FILM BAIK, BELUM TENTU BAGUS"

    Reply
    • Sapu Lidi

      Sepakat mas Dukun Film. Film ini memang masih perlu banyak evaluasi. Ada beberapa bagian yg saya soroti

      Di aspek visual,di film ini, yg terjadi bukan seperti sebuah penyajian cerita lewat visual, tapi seperti pembacaan novel dg background kumpulan beberapa video yg diplay berurutan memakai winamp. Kenapa saya bilang beberapa video? Karena antara gambar satu dg gambar yg lainnya tdk nyambung.

      Di aspek suara, ada beberapa part yg sangat mengganggu. Biasanya dalam sebuah film akan terdapat perbedaan efek, suara dialog, suara narasi, suara orang dr jauh (misal suara sedang telfon atau suara orang memanggil seseorang yg dalam frame dr jauh). Di beberapa part di film ini sy menemukan suara dg efek suara seperti sang narator bercerita, ternyata itu suara dialog. Dan lebih memgganggu lagi suara orang dialog tiba2 ditimpa oleh suara soundtrack keras mengecil lalu mengeras lagi padahal itu scene dialog panjang. Hal ini membingungkan penonton, suara mana yg harus didengarkan, soundtracknya ataukah suara dialog tokohnya?

      Terdapat scene yg tiba2 membuat saya dan teman saya tiba2 tertegun kaget sampai saling berpandangan. Kami mengira ada suara seseorang sesenggukan di pojok belakang studio. Tapi setelah sadar ternyata itu suara orang menangis di layar film. Saya tdk mengerti pengaturan apa di suara seperti ini. But seriously,suara tersebut seperti suara setan yg sedang meraung di pojok bioskop dr pd seorang wanita menangis di depan sang tokoh yg di pantai. Rasanya benar2 aneh

      Terkait konten cerita juga ada beberapa kejanggalan.

      Penyampaian cara dakwah Yudi… tiba2 yudi datang ke sebuah bis sebagai orang asing lalu tiba2 berkhutbah di bis. Itu cara dakwah yg luar biasa out of the box…akneh banget tiba2 didatangi orang asing seperti itu.

      Lalu perubahan gita menjadi berjilbab hanya karena ikut seminar sekali. Untuk membuat seseorang mau berubah itu ada pergolakan jiwa yg sangat amat, sayang hal tersebut tidak dieksplor tentang pergolakan bantin gita untuk akhirnya bisa berhijrah

      Di aspek pengambilan gambar, salah satu penyelamat di film ini adalah wulan guritno. Dg mimik wajah, tanpa kata, tapi menusuk ke jiwa. Mampu membuat saya bisa merasakan bahagia dan kesedihan seorang ibu hanya dari mimik wajah. Tapi sayang sekali ekpresi kesedihan wulan guritno yg begitu menusuk ketika di rumah sakit melihat Gagah yg sekarat, dieksekusi dg pengambilan gambar yg penempatan kameranya sungguh sangat mengganggu. Saran saja, janganlah ditaruh di depan seperti itu. Bisa lah diambil dr samping atau dr mana gitu.

      Selain itu, pengambilan gambar ketika kyai ghufron sedang berbincang berdua (kepada yudi atau Gagah sy lupa), di ambil gambar kyai ghufron setengah badan full, tapi lawan dialognya diambil setengah kepala saja. Dan ketika seseorang itu yg ganti berbicara, dia disorot setengah badan full dan kyai ghufron diambil gambar setengah kepala saja. Berganti2 kamera menyorot seperti itu.Seperti dialog dg siluman karena berbicara dengan separuh kepala saja. Efek lain yg terjadi adalah membuat pusing penonton. Karena kamera terlalu banyak berganti sorotan, berganti2 kanan kiri yg membuat saya jadi olah raga mata. Lelah

      Terakhir dan kesimpulan, film itu ttg visualisasi cerita. Bukan pengubahan tulisan novel ke bentuk suara dan kumpulan gambar pemandangan.

      Anw, saya salut dengan keberaniannya sebagai sineas pemula dg ketidaksuksesan kmgp 1 tetap nekat membuat versi ke 2-nya. Kritik ini adalah bentuk kepedulian. Saya sangat berharap untuk sineas2 yg saya yakin dg niat tulus, bervisi untuk menyajikan film2 positif benar2 bisa berusaha untuk mengerjakan film2 baik dg pengerjaan yg baik, shg pesan2 dakwahnya sampai kepada khalayak 🙂

      Reply
    • LoveCemungudhEaaa

      Fiks, haters

      Reply
    • LoveCemungudhEaaa

      Ga usah gubris komenan si dukun ini. Inget, gimana hukumnya mempercayai perkataan dukun

      Reply
      • DukunFilm

        Udah gak ceramah… aku dah di ceramahin 87 menit..

        Reply
        • LoveCemungudhEaaa

          Siapa yang ceramah? 87 menit ngapain aja?

          Reply
  7. Nayah

    Jangan mau kalah sama yg kecil, kalo yang kecil saja nonton, masa iya yang besar nggak nonton. Filmbagus.filmislam
    Tahap perbaikan dunia menjadi lebih baik. Tidak pornografi tidak menyesatkan

    Reply
  8. Ika Apri

    Saya sepakat bahwa film ini membawa pesan-pesan kebaikan dan iti adalah nilai plus dari film ini. Namun, ada beberapa hal yang menurut saya perlu digarisbawahi:
    1. Akting –> akting beberapa pemain, termasuk pemeran Mas Gagah yang menjadi tokoh utama masih sangat kurang di film ini. Jika tidak ada Aquino Umar sebagai pemeran Gita dan beberapa pemain senior mungkin film ini akan sangat hambar.

    2. Dialog –> terlalu banyak monolog dalam film ini. Dialog antar tokoh, terutama yg diucapkan Mas Gagah dan Yudi terlalu kaku dan kurang natural sehingga terkesan membosankan. Akan lebih baik jika dialognya dibuat sebagaimana saat ngobrol biasa, apalagi dialog antar teman atau antara kakak dengan adik.

    3. Alur cerita –> saya jujur agak bingung dengan alur cerita yang maju mundur. Saya faham bahwa ini adalah kelanjutan dari film pertama, Ketika Mas Gagah Pergi. Beberapa adegan memang sudah ada di film pertama. Namun, film kedua ini akan sangat membingungkan bagi penonton yg mungkin tidak menonton film pertama. Akan lebih baik jika mungkin, di awal ditampilkan flash back atau cuplikan film pertama, kemudian alur dibuat maju. Atau jika perlu flashback, flashback nya tidak terlau banyak. Dalam film ini juga kurang dijelaskan mengenai proses Mas Gagah memperoleh hidayah, sebab tidak serta merta orang yg tinggal di pesantren dapat hidayah.

    4. Make up dan detail kecil lainnya –> overall make up sudah lumayan sebetulnya. Tapi, make up Mas Gagah saat dia terbaring di pesantren masih kurang pucat, kurang terlihat seperti orang yg tenggelam dan hampir hilang nyawa apalagi tidak ada adegan dia dibawa ke rumah sakit. Artinya mungkin dia hanya mendapat perawatan seadanya dr Kyai. Kemudian jenggot, jenggot Mas Gagah terlihat kurang natural. Lalu juga make up saat dia di rumah sakit karena terkena luka bakar, itu menurut saya kurang ‘ngenes’ untuk bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia. Sebaiknya ditampilkan pula adegan saat bagian tubuh Mas Gagah terkena lemparan botol yg disulut api, agar lebih kentara penyebab lukanya dan di bagian mana dia kena luka.

    Memang production house ini masih baru, para pemeran dan krunya juga. Namun, alangkah baiknya bila semua tim belajar dari film atau drama yang sudah ada agar lebih maksimal hasilnya. Sebab semangat untuk menyampaikan nilai kebaikan saja tidak cukup, ia harus diiringi dengan sarana dan metode yang terbaik. Semoga bisa lebih baik ke depannya, sehingga kebaikan yg ingin disampaikan bisa menjangkau kalangan yg lebih luas lagi ke depannya.

    Terima Kasih.

    Reply
  9. SebutSajaKecebong

    Setuju banget sama komen Ika apri dan dukun film, nah sebagai orang awam yang jarang ke bioskop dan biasanya hanya ngopy film di warnet atau download di situs tertentu, tentunya saya sendiri, walaupun bukan ahli film, tapi tahu juga mana film yang layak tonton, berkualitas dan pesannya sampai, eits bukan bermaksud sok tahu loh ya, diingat ini hanya komen dari orang awam seperti saya, nah coba bayangkan, kita ke bioskop, susah susah pesen jauh2 hari, ribet, ataupun on the spot, ngantri, baper liat orang pacaran, mana laper tapi harga popcorn selangit lagi, dan ketika masuk ke bioskop, disuguhkan film yang “hah? Apa sih ini?” bikin sebel aja, udah bayar mahal mahal dapetnya gini doang, njuk opo gunane nonton, gitu, nah itu baru pandangan satu orang, kalau misal ada sekelompok orang saja yang merasa sama, dan kemudian mereka berkoar koar negatif tentang hal itu bagaimana? Bagaikan butterfly effect, hal tersebut bisa menjadi gaung dan stereotipe yang tidak sedap terhadap film dengan embel embel “islami” ataupun “dakwah” karena kualitasnya yang bahkan, hmmmm kalau bisa dibilang, menyedihkan.
    Tentu saya tidak terpusat hanya DSC saja ya, tapi film film lain yang serupa, yang terkesan hanya dibuat dengan embel embel “islami” atau “dakwah” tetapi unsur2 lain diabaikan, Mennn, emangnya dakwah sebercanda itu?? Gini gini saya juga baca buku sirah, belajar tarikh juga walaupun ga tuntas, setahu saya orang orang muslim itu adalah panutan di segala bidang kehidupan, segi duniawi maupun ukhrawi mereka tuntas dan bahkan diatas rata-rata, tapi kenapa sekarang malah dibalik? Ataukah memang sebegitu parahnya realita yang terjadi ataukah karena kitanya yang apatis dan kurang berjuang? Saya yakin banyak sekali sineas muda Indonesia yang bisa membuat film lebih baik dari ini, dengan editing dan make up yang lebih detail dari ini, dan tentunya dengan adaptasi dari naskah dan penulisan alur maupun script yang jauh jauh lebih bagus dari ini,dengan modal yang jauh dibawah kata milyaran. Saya tidak bilang film ini jelek tapi saya khawatir terhadap mass effectnya kalau kita tidak segera berbenah. Anak anak dan remaja butuh tontonan yang bermutu, dan dari mereka menonton, mereka bisa belajar pula bagaimana seharusnya film yang baik itu pengambilan gambarnya, penyutradaraan, alur, editing, make up dll. Sekarang waktunya era kita bangkit, jangan sampai perjuangan orang orang, khususnya orang muslim yang masih peduli dengan film, dihancurkan oleh satu atau dua film dengan hanya mencatut embel embel “dakwah” atau “islami” tetapi sungguh merusak hakikat dari film itu sendiri

    Reply
    • LoveCemungudhEaaa

      Dolanmu kejauhan, bong

      Reply
  10. Sapu Lidi

    Wow

    Reply
  11. Name

    Baik, karena filmnya islami, tapi kalo untuk isi, kurang jleb.

    Banyak iklan, film pendek,dll yg berdurasi beberapa menit, tapi pesan moral dari filmnya mudah diresapi, nyampe hati.

    Pengalaman nonton film dsc, yg berdurasi hampir 1,5 jam, hampir hambar, kaya gak dapet apa2, sempat terbesit “mending nonton video ig aja yg satu menit kadang bisa bikin ketawa, kadang bisa juga bikin nangis, ada hasilnya, ada rasanya” tapi ah ya sudahlah, saya juga belum tentu bisa bikin film yang lebih baik

    Semangat, mudah2an kedepan bisa jauh lebih baik lagi

    #cuman_melengkapi_review_diatas

    Reply
  12. EmotionalBlockbuster

    Saya rasa ada yang salah ketika menganggap reviu jujur yang berisi kritik adalah pernyataan dari pembenci “hater”. Para penggemar sejati aka “fan” justru seharusnya memberikan masukan atau kritik agar yang disukai dapat terus berbenah jadi sesuatu yang lebih baik, bukannya memberikan pujian yang melenakan yang justru akan merusak. Kita hargai film ini sebagai ikhtiar dakwah, tapi tidak sampai disitu saja, perlu adanya kritik yang membangun seperti yang dilakukan teman-teman di atas. Bagi orang awam saja film ini banyak kurangnya, apalagi bagi penikmat dan kritikus film. Semoga film-film “islami” bisa dikemudian hari memperbaiki kualitasnya dan bersaing dengan film-film konvensional di kalangan masyarakat umum, bahkan di penghargaan-penghargaan film nasional dan internasional 🙂

    Reply
  13. Wong Alusan

    Ini film apa sih sebenarnya? Sekarang udah gak tayang lagi ya di bioskop?

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest