Di Dunia Fashion, siapa yang tidak kenal dengan nama Aji Bram perancang mode Internasional asal Indonesia. Indonesian Fashion & Batik Festival yang diselenggarakan di Swiss sejak tahun 2013 adalah dedikasinya untuk meningkatkan citra  dan memajukan Batik kebanggan Indonesia di dunia Internasional.

Beruntung, ketika KOPFI bekerjasama dengan Pena Ananda Club Tulungagung mengadakan Nonton Bareng film Surau dan Silek bersama anak Yatim di Golden Theater Tulungagung pada hari Minggu (18/6) Aji Bram berkesempatan untuk hadir dan ikut menonton di Nobar tersebut.

Berikut testimoni Aji Bram tentang film Surau dan Silek:

Selama ini Saya sudah melihat banyak film, baik itu film Nasional, Hollywood, Bollywood, Mandarin, dan juga film-film lain dari Eropa dan Australia, mengingat saya merupakan seorang penggemar film dan pernah tinggal di banyak Negara, dan saat ini saya tinggal di dua Negara, Swiss dan Indonesia. Selama itu pula, baru kali ini Saya menonton film yang mampu membuat Saya betah dan tidak bergeming menikmatinya dari awal sampai akhir dengan perasaan di aduk-aduk, haru, bersyukur, bangga, terkesima, takjub, bahkan dada saya sesak menahan rasa emosional terbawa arus cerita film dengan penggarapan yang lengkap.

Very well – written script, photography luar biasa dengan penggambaran khas daerah. DOP yang sangat mumpuni mendirect kamera sehingga semua gambar tersaji dengan pas, tidak lebih dan tidak kurang. Musiknya juga sangat menyentuh dan menyatu dengan cerita. Para pemainnya sangat berbakat dan natural sekali, mereka tenggelam dalam karakter yang diperankan bukan menjadi diri mereka sendiri . Dan tentu saja Sutradara sangat berhasil membuat film ini menjadi karya utuh yang bukan saja sebagai tontonan, tapi punya nilai edukasi kecintaan terhadap nilai-nilai agama, budaya, social, kesetiakawanan, kedisiplinan, kasih saying, dan keindahan ciptaan Tuhan yang harus dilestarikan. Semua itu terkemas dengan apik, pas, dan berhasil di film “Surau dan Silek” yang bisa dikagumi dari awal sampai akhir tanpa ada keinginan berkedipun mata ini.

Ketika ditanyakan scene favorit di film Surau dan Silek, Aji Bram sempat kesusahan menjawab karena semua scene di film di sukainya. Akhirnya beliau memutuskan scene favorit saat Adil bertarung dengan keadaan terganggu penglihatannya, dan Adil mencoba focus dengan pesan “Shalat, Shalawat, Silek” yang harus beriiringan sejalan.  “Disini pengambilan gambar, musik, tata cahaya, juga acting si Adil bisa membuat saya teraduk aduk bukan hanya oleh kepenasaran Saya dengan hasil pertandingan silat itu, tapi juga pesan moral yang dibangun dan disampaikan dengan pas dalam sebuah karya yang lengkap.” ujarnya.

Aji Bram juga mengaku kecewa karena film ini tidak diapresiasi semestinya, karena hanya sedikit layar bioskop di Indonesia yang menayangkan film ini secara regular. Beliau berharap di tiap daerah di Indonesia punya bioskop komunitas khusus untuk film-film non mainstream. Seperti di Swiss banyak bioskop seperti ini.  Selain itu Beliau juga mengungkapkan keinginanannya membawa film ini ke Swiss, agar film ini bisa ditayangkan di Bioskop-bioskop Swiss dan ditonton tidak hanya warga asal Indonesia tapi juga orang asing yang tinggal disana.

Pin It on Pinterest