Tepat disaat saya melangkahkan kaki keluar teater, kawan nonton saya bertanya,

“Jadi, nilai kamu untuk film ini, berapa Ti?”
Dan saya menjawab :
“Saya ndak berani kali ini memberi nilai, karena ini film islam yang dibuat dengan low budget dan jika nekad saya memberi nilai. Khawatir akan mematikan gaung film islami.”

Adapun sedikit review ini saya tulis sebagai kritik penonton secara umum, bukan sebagai kritikus film (saya mah apa atuh, bikin film aja kagak bisa!).

Hal yang paling fatal menurut saya dalam film ini adalah SOUND yang tidak balance dan konsisten. Contoh :
Saat ada adegan menelpon, suara penelpon setara dengan yang ditelpon, tapi di scene lain suara penelpon sesuai dengan seharusnya. Lalu ada juga VOICE OVER yang volumenya tidak sesuai atau terkesan di”tombok”. Daaan, penggunaan ‘broom’ (kalau tidak salah semacam mic)yang kurang sesuai. Jadi dalam satu ruangan, ada suara yang lebih keras, dan ada yang suara kecil. Jadi malah aneh.

Hal kedua, adalah FRAME, pengambilan gambar Close Up terlalu sering dan dirasa kurang sesuai dan jujur agak menganggu. Namun disisi lain ada pengambilan yang pas. Serta kualitas kamera yang berbeda. Saya pikir, tim melakukan banyak manuver teknik pengambilan gambar yang malah membuat kesan seperti gado-gado.

Hal ketiga, adalah kualitas akting pemain baru. Bagi saya memang tidak se-spektakuler acting perdana Cholidi dan Oki Setiana Dewi. Banyak tokoh yang berperan terlalu “salty”, atau berlebihan dan tidak sesuai kondisi. Serta pembawaan yang masih kaku. Selain itu ada beberapa scene dan dialog yang kurang penting, namun dimasukkan, sehingga semakin membuat gado gado semakin bervariasi, yang pada akhirnya membuat saya sulit memilah mana yang harus dimakan.

Hal ke-empat, alur cerita yang kadang ada part yang membingungkan, apalagi scene saat kakak Lefan meninggal, penonton dibuat bingung, sebenarnya kakaknya ini lagi berdoa, lagi melamun, atau lagi sakratul maut? Dan awal film kurang greget dan nendang dengan alur flat. Saya pikir kurang ada klimaks dalam film ini. Pergolakan emosi kurang digali. Tokoh utama kurang menonjol, apalagi tokoh perempuannya. Dan kisahnya terasa campur aduk, antara kisah Lefan, Azka, dan Rein yang dibaurkan tanpa benang merah. Sehingga kurang mengikat isi cerita. Dan kejutan yang diberikan saya rasa cukup ” menampar”, tapi sayangnya kurang dibangun kuat dari awal. Sehingga maksud hati membuat penasaran, tapi akhirnya membuat bingung.

Tapi saya pribadi memberikan apresiasi untuk Film Islam yang cocok dikonsumsi untuk remaja dan pemuda islam. Namun , film ini tampaknya sesuai untuk penonton yang “sewarna”, jika dilempar ke masyarakat umum, agaknya masih sulit dicerna (ya, saya kadang juga missing di banyak part dalam film ini). Semoga review ini dapat menjadi PR besar terhadap perfilman islam yang ” idealis” dan syar’i, sehingga kita layak nampang di XXI berminggu-minggu, dan berbulan-bulan.

Namun, dari hal-hal yang saya review diatas, tentu adapula input kebaikan dari film ini. Terutama semangat mendekatkan diri pada alquran, mempopulerkan gaya pemuda penghafal quran dan juga menggambarkan bahwa belajar islam itupun menyenangkan. Tausiyah yang ditampilkan sebenarnya hal yang sederhana, namun cukup mengena. Seperti kutipan yang disampaikan tokoh Fatih kepada Azka, “Mungkin Allah sedang meminjam matamu, masa kamu pelit sama Allah?” dialog yang kurang lebih seperti itu. Membuat kita merasa tertampar berkali-kali. Meskipun pada kenyataannya memberikan tausiyah tidak seindah dalam film, tapi film ini berhasil menyajikan dakwah islam yang harapannya menjadi inspirasi para muslim dam muslimah. Bahwa jika kita mencintai Allah, maka kita takkan pernah merasa bahwa memiliki masalah.

Selain itu, digambarkan pula dengan baik, bahwa kesholehanmu tidak lantas membuatmu menjadi sombong dan merasa lebih baik. Serta poin di awal mula film diputarkan yang bagi saya sangat mengena adalah ketika Lefan menggugat kakaknya. Hal tersebut menyadarkan saya terutama, bahwa berdakwah itu bukan hanya memberikan hal baik pada orang banyak, tapi memberikan hal baik yang maksimal pada keluarga sendiri.

Sekarang, kita tinggal menunggu, bagaimana KMGP menggemparkan indonesia di 2016! (Ditunggu ya Bunda, Helvy Tiana Rosa)

Saya sarankan, tetap pergi untuk menonton, menghargai karya, dan memberi masukan. Jika bukan kita, harus berharap pada siapa lagi?

Salam semangat untuk para pejuang film islami,

Isti Anindya

 

Pin It on Pinterest