“Akankah dunia akan lebih baik tanpa islam?”

Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun sempurna mengikat ide cerita yang patut saya beri dua jempol. Padat, fokus, dan meaningful. Saya pikir tim pembuatan film (yang mungkin sama dengan film 99 cahaya di Langit Eropa) berhasil menjadi tim yang BIJAKSANA. Penokohan yang kuat dan membawakan perannya dengan pas, yang membuat cerita ini menjadi sangat fokus. Benang merah antar setiap tokoh dan kejadian saling mengikat, sehingga tidak ada scene yang terbuang sia-sia, semua berharga.

Dari segi sinematografi, tentu tidak perlu diragukan lagi, manuver teknik pengambilan gambar sangat berkelas dan konsisten. Serta sound yang balance dan mampu memainkan adrenalin penonton. Mungkin hanya sedikit teknik editing yang masih sangat terlihat kurang ‘real’ pada scene Mr Brown yang berusaha mencegah Anna untuk terjun dari WTC yang setengah hancur. Tentu dimaklumi, karena membuat film dengan editing yang real seperti Fast To Furious memerlukan dana yang tidak sedikit. Namun, untuk film indonesia, saya pikir tidak terlalu menganggu.

Hal yang menarik menurut saya adalah apa yang dimunculkan di awal dan diakhir, ada kesatuan yang dipecah secara cerdas. Sehingga jika anda menonton dengan cermat, akan terlihat bahwa ide cerita ini dibuat sangat matang. Logika berpikirnya sangat masuk dan bagi saya cukup bisa disandingkan dengan beberapa film internasional. Pada awal film diputar, penonton dipaksa untuk menelan kenyataan tentang seorang tokoh kunci dalam film ini, ada rasa kecewa dan mulai menebak “Apa sebenarnya yang terjadi?” Sehingga saat itu sayapun mulai fokus menonton untuk mencermati setiap ditailnya. Mengumpulkan yang tercecer untuk membuat satu pemahaman yang baik terhadap esensi yang disajikan dalam film ini. Dan bagi saya awal film dimulakan dengan sesuatu yang epik, menarik, dan membuat penonton harus menyelesaikan film ini tanpa menguap dan terkantuk.

Esensi film ini begitu menancap dalam hati saya sebagai seorang muslim. Membangkitkan kebanggaan saya sebagai muslim yang memiliki pandangan berdasarkan alquran. Bahwa islam adalah agama yang damai, dan alquran mengajarkan itu. Banyak pesan moral yang disampaikan dalam film ini. Hal yang membuat saya kembali memberi 2 jempol adalah karena film ini mengangkat isu Suriah dan isu diskriminasi terhadap umat muslim. Dan yang terpenting adalah menegaskan bahwa islam bukan agama teroris. Mengapa terpusat pada kata ‘teroris’? Karena isu inilah yang melekat pada agama yang saya yakini. Ada rasa kecewa, namun tentu tidak seburuk itu. Sepanjang saya mengamati dari beberapa film yang saya tonton, terutama serial NCIS buatan Amerika, disana mereka menunjukkan bahwa yang namanya teroris itu tidak melulu berkaitan dengan islam dan umat muslim. Banyak kepentingan yang mendorong terorisme terjadi. Jika anda dapat belajar lebih dalam untuk melihat, maka anda akan paham, bahwa sebenarnya islam dan ummatnya patut dicintai oleh seluruh penghuni bumi ini.

Saya sempat sedikit berdebat dengan suami, mengenai pandangan, film mana yang lebih baik, “99 Cahaya” atau “Bulan Terbelah” ini? Jika suami memberikan pandangan bahwa “99 Cahaya” lebih baik, maka saya sebaliknya. Jika film terdahulu saya memberikan nilai 7, maka untuk film kali ini saya berani memberikan nilai 8,5. Dan untuk sebuah penilaian tentu berpulang pada selera masing-masing dan cara pandang seseorang terhadap sebuah karya seni berupa film layar lebar.

Saya menyarankan untuk kawan dan saudara semua dapat mengajak keluarga ikut menonton film yang cukup memberikan banyak hal positif ini. Dan harapannya dapat mempertebal kebanggan kita terhadap islam jika kita seorang muslim. Dan mampu memberikan gambaran pada saudara kita yang non muslim, bahwa islam itu adalah agama kedamaian yang menghargai siapapun, baik itu bagian atau bukan bagian dari islam. Karena Alquran mengajarkan kita untuk saling menyayangi, menghormati, dan menghargai satu sama lain. Karena islam itu adalah agama yang sempurna, hanya manusia-nya yang tidak sempurna. Selamat untuk Mbak Hanum dan Mas Rangga, berhasil menyampaikan sebuah pesan yang mungkin sangat sederhana namun begitu berharga. Tidak usah melulu bicara tentang islam dari hal yang berat-berat dan yang kadang sulit kita cerna serta memunculkan perselisihan. Sedangkan kita tak sadar sering melupakan hal yang ringan yang terabaikan dan kadang sulit kita peluk, yaitu rasa bangga menjadi seorang muslim.

Salam Cinta seorang muslim,

Isti Anindya

 

Pin It on Pinterest